Keuntungan Bertani Padi dengan Sistem Salibu

RISKA RIADANI 27 Februari 2020 19:40:27 WIB

KarangtengahNews-Teknologi budidaya padi “Salibu” mungkin masih terdengar asing di telinga petani padi di dataran tinggi Gayo, padahal di daerah lain teknologi sederhana ini sudah banyak diterapkan sebagai alternatif budidaya padi hemat bibit, hemat tenaga dan hemat biaya produksi. Teknik budidaya padi Salibu merupakan terobosan baru untuk memacu dan meningkatkan produktivitas hasil panen padi bagi para petani dan meningkatkan produktifitas nasional.Namun dengan teknik budidaya padi Salibu yang sederhana dan tidak rumit ini, terbukti lebih efisien dan murah dibandingkan teknik budidaya padi biasa. Hasil panennya pun berlipat serta dapat dilakukan panen berkali-kali hanya dengan satu kali tanam.

Apa sebenarnya teknik budidaya padi Salibu?

Teknologi budidaya padi Salibu merupakan teknik menaman padi dengan cara memanfaakan rumpun padi sisa panen, karena berdasarkan penelitian, rumpun sisa panen masih bisa menghasilkan tunas baru yang akan membentuk populasi tanaman baru yang bisa berproduksi nyaris sama dengan hasil penanaman awal. Dengan demikian petani hanya cukup sekali menanam bibit padi, dan selanjutnya bisa memanen sampai beberapa kali tanpa harus menanam bibit baru. Salibu sendiri merupakan akronim dari Sekali Tanam Panen Berulang-ulang atau panen berkali-kali.

 

Caranyapun sebenarnya sangat mudah dan dapat dilakukan oleh siapapun, rumpun padi sisa panen dipotong rapat menggunakan mesin babat rumput dan hanya menyisakan pangkal tanaman setinggi kurang lebih 3,5 cm. Pangkal rumpun tersebut digunakan sebagai penghasil tunas atau anakan yang baru dan di pelihara setelah batang sisa panen ditebas/dipangkas sebelumnya. 

Selanjutnya dengan stimulant berupa pupuk kandang atau pupuk organik, dalam beberapa hari, tunas baru  akan muncul dari buku ruas pangkal batang yang tersisa didalam tanah. Kemudian tunas ini akan menghasilkan anakan dan akar baru sehingga suplai unsur hara tidak lagi tergantung pada sisa batang lama. Tunas ini bisa membelah atau bertunas lagi sama halnya seperti padi tanaman yang berasal dari bibit baru, yang kemudian membentuk rumpun baru.

Dengan teknik salibu ini, sisa tanaman lama berupa pangkal batang berfungsi sebagai penganti bibit pada sistem tanam biasa/pindah bibit. Hal inilah yaang menyebabkan pertumbuhan dan produksinya sama atau bahkan bisa lebih tinggi dibanding tanaman pertama (induknya).

Sebelum teknik salibu ini diperkenalkan, para petani di pulau Jawa sudah mengenal teknik Ratun, yaitu sisa tanaman padi sehabis panen dibiarkan tetap berada di lahan sawah tanpa dilakukan pemotongan batang, kemudian diairi kembali. Tunas baru kemudian muncul pada sisa tanaman tersebut, namun bentuknya tidak beraturan dan produktivitasnya juga jauh menurun dari tanaman sebelumnya, karena teknis ratun nyaris tanpa perlakuan apapun.

 Sementara teknik salibu, hanya menggunakan pangkal batang sebagai sumber tunas baru, sehingga tanaman baru hasil pertunasan ini hidupnya serempak dan seragam, begitu juga dengan jajaran tanamnya, akan mengikuti tanaman sebelumnya. Kentungan menggunakan pangkal batang sebagai sumber tunas adalah, jumlah anakan lebih banyak, dan setelah tunas baru muncul, tanaman lama akan mati dan terurai sebagai material organic yang akan diserap tanaman baru sebagai asupan hara.

Tahapan teknik budidaya padi Salibu

Segera setelah tanaman padi dipanen lahan digenangi air setinggi ±5 cm selama 2-3 hari, dan jangan di biarkan dalam kondisi lahan sawah terlalu kering, Setelah sawah di genangi selama 2 – 3 hari kemudian saluran pembuangan air dilepas kembali. Hal tersebut di lakukan bertujuan untuk menjaga kelembaban tanah dan menghindari agar batang padi yang masih berdiri tidak mati kekeringan.

Sebelum melakukan pemotongan batang padi sisa panen, lakukan pemberian pupuk kandang/pupuk organik pada lahan sawah dengan kebutuhan 1 ton/ha. Pemberian pupuk organik ini bertutuan untuk memperkuat struktur perakaran dan mempertahankan kesuburan pangkal batang, sehingga pada saat pangkal batang dipotong, akan segera memunculkan tunas-tunas baru.

Setelah pupuk mulai diserap tanaman, maka dilakukan pengurangan air pada lahan sawah, kemudian dilakukan pemotongan batang sampai ke pangkalnya, hanya menyisakan sekitar 3,5 cm dari permukaan akar. Dalam beberapa hari,, tunas baru akan mulai terlihat tumbuh pada pangkal batang tersebut. Setelah tunas mulai tumbuh setinggi kurang lebih 5 cm, sawah kembali digenangi air secukupnya, kemudian diberikan pupuk susuran untuk merangsang pemecahan tunas dan penumbuhan tunas baru, sehingga membentuk rumpun-rumpun baru. Pemupukan ini dapat menggunakan pupuk organic yang ditambah dengan sedikit stimulant berupa pupuk kimia yang mengandung unsur NPK (Nitrogen, Phospor dan Kalsium) yang dosisnya disesuaikan dengan kondisi lahan.

Untuk selanjutnya perlakuan budidaya padi Saliu sama dengan budidaya padi biasa, yaitu mengatur pengairan, melakukan penyiangan, mengendalikan hama dan penyakit tanaman jika terjadi serangan, sampai datangnya waktu panen yang umurnya kurang lebih sama dengan tanaman sebelumnya. Setelah dilakukan panen, maka dapat dilakukan lagi pengulangan teknik salibu pada lahan yang sama, ini dapat dilakukan 3 sampai 5 kali.

Sumber: https://www.kompasiana.com/masfathan66/593f8be5ae7e6197287aaa4a/teknik-salibu-paket-hemat-budidaya-padi?page=all

Komentar atas Keuntungan Bertani Padi dengan Sistem Salibu

Formulir Penulisan Komentar

Nama
Alamat e-mail
Komentar
Isikan kode Captcha di atas
 

Website desa ini berbasis Aplikasi Sistem Informasi Desa (SID) Berdaya yang diprakarsai dan dikembangkan oleh Combine Resource Institution sejak 2009 dengan merujuk pada Lisensi SID Berdaya. Isi website ini berada di bawah ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik dan Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International (CC BY-NC-ND 4.0) License